Menjaga Alat Vital Pria

08/02/2010

Semakin tua usia seseorang, semakin mengecil alat vitalnya. Demikian menurut seorang ahli urologi. Ia menyebutkan bahwa pada pria yang memasuki usia 40 tahun, fisik penisnya akan mengalami perubahan.

Perubahan itu, antara lain, ujung penis akan kehilangan warna aslinya yang agak ungu akibat berkurangnya aliran darah ke area tersebut. Rambut di sekitar penis pun perlahan rontok. Dengan semakin berkurangnya hormon testosteron, penis secara bertahap akan kembali ke bentuk seperti masa pra-puber, biasanya tanpa rambut.

Penyusutan penis itu utamanya disebabkan penumpukan lemak di pembuluh arteri penis sehingga menghambat aliran darah. Sebab lain, berkurangnya elastisitas lapisan kolagen yang mengelilingi serabut bilik ereksi. Ereksi terjadi ketika aliran darah memenuhi bilik. Lapisan kolagen yang makin hilang elastisitasnya juga akan menghambat aliran darah dan melemahkan ereksi. Pengecilan ukuran penis itu mengakibatkan pula pengerutan testis.

Bila pada pria berusia 30 tahun testisnya berdiamater 3 sentimeter, maka pada umur 60 tahun berkurang menjadi hanya 2 sentimeter. Supaya penis tidak mengerut, disarankan agar pria yang memasuki masa paruh baya sering melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Sebab ereksi yang terjadi pada penis pada dasarnya mengalirkan darah ke bilik ereksi.

Dengan begitu, semakin sering terjadi ereksi, darah akan terus mengalir ke bilik dan menerobos lemak, sekaligus membersihkannya. Sehingga ereksi berikutnya bakal makin lancar.

Tapi , usia 40-an tahun itu jangan dianggap sebagai patokan utama. Sebab umur 40-an tahun merupakan masa proses penuaan. Pada masa ini, hormon testosteron dapat berkurang. Sehingga penis tampak makin terlihat kecil. Wajar kalau sudah usia 60-70 tahun, penis biasanya jadi lebih pendek.

Namun hal itu tak berlaku bagi pria yang menjaga kesehatannya dengan baik, rajin olahraga, dan tidak kebanyakan kolesterol. Untuk itulah, penis pada pria sehat yang usianya lebih dari 40 tahun justru masih normal dan berfungsi dengan baik. Tak mengherankan bila ditemukan pria berusia 50-60 tahun dengan penis yang masih sehat.

Sebaliknya, pada pria berusia 30 tahun, stres, perasaan tertekan, dan berkurangnya hormon testosteron dapat mengakibatkan disfungsi seksual. Jalan agar penis tetap normal dan ereksi tak lain adalah seringnya melakukan hubungan seks. Tak hanya di penis. Organ tubuh lain pun, bila sering difungsikan, maka bertambah bagus.

Frekuensi praktek hubungan seks itu sangat relatif. Tergantung stamina dan kesehatan di antara pasangan. Standarnya, ya, setidaknya dua pekan sekali, meskipun ada pula yang melakukannya sehari 2 s/d 5 kali dengan teknik tertentu dan Itu juga bila stamina dan kesehatannya mendukung.

Penyusutan penis itu bukan semata-mata karena pria pada umur tersebut jarang melakukan hubungan intim. Itu terlalu gegabah. Orang berhubungan seks secara teratur pun, bila tak punya pola hidup sehat dan tidak mendapatkan pengobatan, tetap bakal mengalami penuaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: